UPN "Veteran" Yogyakarta Gelar Seminar Bela Negara



Sebarkan :


Views: 42

Yogyakarta- Seminar Nasional bertajuk “Mewujudkan Sikap Bela Negara dan Menjaga Nilai-Nilai Pancasila dalam Rangka Menjaga Keutuhan NKRI” digelar di kampus bela negara, UPN “Veteran” Yogyakarta, Sabtu (10/03/2018). Keberagaman di Indonesia dan potensinya menjadi komoditas isu perpecahan jelang Pemilu 2019 menjadi bahasan menarik dalam seminar ini.

Hadir sebagai pembicara yaitu Agus Surata (ketua GHARBA), Imron R.Rawie. M. Hum (Pengasuh Ponpes Miftahul Umum Yogyakarta), KH. Ahmad Muzammil (Ketua Gerakan NKRI)), dan Lobo (Dosen Pancasila UPN). Acara ini hadir untuk mengajak pemuda peduli terhadap NKRI demi memerangi maraknya kasus radikalisme dan intoleransi di Yogyakarta akhir-akhir ini.

Ketua Gerakan Harmonisasi Bangsa demi persatuan Indonesia (GHARBA), Agus Surata mengajak para generasi muda untuk kembali menjaga keharmonisan antar masyarakat. Apalagi generasi muda Indonesia merupakan calon pemimpin bangsa. Oleh karenanya generasi muda untuk merebut bangsa ini dengan menjaga keharmonisan antar masyarakat.

Ia pun meminta para pemuda berperan aktif menjaga persatuan dan kesatuan. Karena persatuan itu bak pondasi rumah yang harus diperkuat guna mencegah perpecahan antar bangsa. Maka dari itu, generasi muda harus menjaga NKRI dan Pancasila dari berbagai oknum yang ingin merusaknya.

Pengasuh Ponpes Miftahul Umum Yogyakarta, Imron Rawe M mensinyalir fenomena tahun politik ini bakal ada lagi benturan antara golongan kebangsaan dengan golongan kebangsaan. Bahkan, kata dia, sangat rawan pula isu SARA kembali dimainkan sehingga dapat berpengaruh terhadap kerukunan umat beragama.

“Saya sangat heran bagaimana sebuah komunitas agama bisa dijatuhkan hanya karena isu penistaan agama. Memang kita itu dihadapkan oleh 2 perang, yaitu perang antara golongan kebangsaan dan golongan agama. Kita akan melihat mengenai kedua hal ini 2019 nanti, dimana golongan kebangsaan akan berbenturan dengan golongan agama” ujarnya.

Ketua Gerakan NKRI, KH. Ahmad Muzzamil menyoroti bahaya radikalisme di Indonesia. Kata dia, ada dua hal yang dianggapnya berbahaya yakni radikalisasi agama dan materialisasi agama.

Dikatakan KH. Ahmad Muzzamil, Gerakan radikal yang khas dengan atribut agamanya, tapi ada juga materialisasi agama padahal radikalisasi agama itu akarnya dari materialisasi agama. Pemahaman agama yang dari materinya saja, misalnya jihad membela agama. Namun, kata dia, ada pemahaman jihad fi Sabilillah yang salah kaprah sehingga merusak pribadi Islam itu sendiri.

"Mereka yang menindas mahluk ciptaan Allah berarti melawan Allah. Yang harus kita bela itu adalah negara. Jadi jihad fisabililah itu tidak selalu perang," bebernya.

Ahmad Muzzamil melanjutkan bahwa jihad fi Sabililah yang sebenarnya adalah apabila ada orang dizolimi atas dasar apapun itu baru kita bela.

“Orang yang beragama kristen, islam, hindu, budha dan konghucu itu adalah ciptaan Allah, Maka siapapun yang menindas mereka semua, mereka yg menindas berarti melawan Allah. Tuhan itu bukan atribut, tuhan itu bukan simbol, yg harus kita bela itu salah satunya bela negara.karena bela negara itu termasuk salah satunya alam, jangan sampai apapun yang ada itu untuk kemakmuran indonesia” jelasnya.

Tags: