UINSA Surabaya Larang Mahasiswi Bercadar



Sebarkan :


Views: 127

Surabaya-Prof Abdul A'la Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mengatakan, telah melarang mahasiswi mengenakan cadar saat proses belajar di kampus. Rektor juga melarang mahasiswi berpakaian ketat saat di kampus. "Sudah sejak dua tahun yang lalu, saya minta kepada para Dekan agar memberi perhatian bagi mahasiswi yang mengenakan pakaian tidak biasa seperti yang ketat dan bercadar tidak boleh," ujarnya, Rabu (7/3/2018).

Pelarangan mahasiswi bercadar, kata Prof A'la, karena dari sisi komunikasi tidak efektif khususnya saat belajar bahasa. Dosen memerlukan komunikasi verbal dalam pengajaran bahasa atau perlu melihat gerak mulut untuk mengucapkan makhorijul huruf. "Dari sisi komunikasi tidak efektif, terutama saat belajar Bahasa Arab, dosen kan perlu melihat gerakan mulut saat mahasiswi mengucapkan makhroj," katanya.

A'la juga mengatakan, pakaian bercadar bisa disalahgunakan, misalnya saat pinjam buku di perpustakaan bisa disalahgunakan mengaku orang lain.
Prof A'la juga menegaskan, bahwa dalam ajaran Fiqih Empat Madzhab (Imam Syafi'i, Maliki, Hanafi, dan Hambali) dinyatakan bahwa wajah bukan termasuk bagian dari aurat yang harus ditutupi. A'la juga menegaskan, bahwa perempuan bercadar tidak boleh dijustifikasi sebagai seseorang penganut radikalisme. "Ini tidak ada kaitannya dengan radikalisme. Bercadar tidak bisa langsung disimplifikasi (disederhanakan) sebagai penganut Islam radikal," katanya.

Untuk itu, kata A'la, terhadap masalah ini dia cukup hati-hati. Penanganan dilakukan secara persuasif dan mengedepankan dialog, seperti menyediakan konseling bagi yang berpakaian bercadar maupun yang berpakaian ketat.

Sekadar diketahui, beberapa Kampus telah melarang mahasiswi mengenakan cadar. Diantaranya UIN Yogyakarta dan UIN Banten. Di Surabaya, Universitas Airlangga juga akan memberikan konseling terhadap mahasiswi yang mengenakan cadar.

Tags: