​Rektor ITS Tegaskan Tak Akan Kurangi Kuota Maba



Sebarkan :


Views: 25

Surabaya-Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof Ir Joni Hermana menegaskan bahwa kampusnya akan tetap mempertahankan kuota penerimaan mahasiswa baru (maba), Selasa (12/12/2017).

Hal ini setelah Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) menginginkan pembatasan jumlah maba di perguruan tinggi negeri ( PTN).

Menurut Joni, hal ini dikarenakan Indonesia saat ini masih kekurangan sarjana sains dan sarjana teknik. Ia meyakini yang dimaksud dengan pengurangan kuota maba adalah mahasiswa dari kelompok program studi (prodi) sosial, politik, budaya, hukum, dan humaniora.

Hal ini tercermin dari persentase lulusan prodi tersebut yang mencapai 60 persen tiap tahunnya. Sementara jumlah lulusan sains dan teknologi hanya berkisar 20 persen dari total wisudawan perguruan tinggi di Indonesia. “Kami masih akan tetap mempertahankan jumlah kuota penerimaan maba untuk saat ini, mengingat Indonesia masih memerlukan banyak sarjana sains dan teknik,” kata guru besar Departemen Teknik Lingkungan ITS ini.

Pengurangan kuota maba PTN, lanjut Joni, tidak akan lantas meningkatkan jumlah mahasiswa perguran tinggi swasta (PTS). “Jika dikalkulasi, jumlah PTS di Indonesia saat ini sebanyak 4.300, sementara yang diminta mengurangi kuota maba hanya sekitar 140 PTN. Jumlah tersebut sangatlah tidak sebanding,” terang Joni.

Lagi pula, imbuh Joni, melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi merupakan hak setiap siswa di Indonesia. Artinya, para siswa tersebut tidak boleh dipaksa untuk masuk ke perguruan tinggi mana, apalagi dengan kapasitas dosen dan fasilitas yang sangat berbeda.

Melihat hal tersebut, Joni menganggap tidak perlu ada pembatasan maba yang diterima PTN sesuai apa yang diusulkan Aptisi. Terlebih, PTN juga mempunyai standar baku tentang berapa kapasitas mahasiswa yang dapat diterima. Semua telah dihitung berdasarkan rasio dosen, fasilitas ruang kelas, serta laboratorium dan peralatan.

Joni kemudian mencontohkan situasi di Tiongkok yang hanya memiliki 2.500 perguruan tinggi. Padahal, jumlah penduduk negeri Tirai Bambu tersebut mencapai 2 miliar jiwa. Sementara Indonesia dengan jumlah penduduk 260 juta malah mempunyai perguruan tinggi yang mencapai angka lebih dari 4.400. “Sudah jelas tidak efisien, jadi kita tidak bisa menyalahkan mahasiswa atas kurangnya jumlah penerimaan maba di PTS,” tutur orang nomor satu di ITS ini mengingatkan.

Rencana pengurangan kuota penerimaan maba di PTN ini bermula dari gelaran Rembuk Nasional Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) di Jakarta, akhir November lalu. Di mana Ketua Umum Aptisi, Prof Dr Ir Budi Djatmiko, meminta pemerintah mengurangi jumlah penerimaan maba di PTN.

Saat itu, menurut Budi, PTN cukup menerima 3.000 hingga 3.500 mahasiswa strata satu setiap tahunnya. Sehingga harapnya, pengurangan ini akan menjadikan PTN fokus mengelola mahasiswa strata dua dan strata tiga. Dengan meningkatkan pengelolaan mahasiswa magister dan doktoral tersebut, ia yakin PTN akan jauh lebih siap menjadi institusi berkelas dunia.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Aptisi Wilayah VII Jatim, Sukowiyono menjelaskan bahwa PTN harus konsentrasi dan serius untuk bersaing di kelas dunia yakni World Class University. Hal ini sesuai apa yang telah dikehendaki Presiden RI Joko Widodo agar PTN membatasi jumlah mahasiswa yang diterima. “Presiden rupanya menghendaki agar PTN membatasi jumlah mahasiswa yang diterima. Karena PTN harus konsentrasi sesuai slogan world class university. Kalau tidak serius, apalagi sampai buka-buka di daerah jadi Kabupaten Class University,” paparnya.

Menurut dia, mestinya PTN harus menjadi tauladan yang baik di tingkat Nasional. “Jangan malah sibuk dengan kerjasama di dalam negeri saja,” tegasnya.

Menanggapi Rektor ITS yang masih membutuhkan lulusan teknik, kata Sukowiyono, pengertian dibatasi itu tentunya PTN harus membuat peta terkait perlunya bangsa 10-15 tahun mendatang. Agar supaya kran pemerintah bisa membuka mana saja yang masih memerlukan mahasiswa. “Artinya, dikurangi itu tidak harus semua dikurangi. Mana saja yang perlu dan yang tidak itu dikurangi,” jelasnya.

Sukowiyono juga meminta PTN untuk konsentrasi pada persaingan perguruan tinggi di tingkat dunia. Hal ini perlu dilakukan agar Indonesia tidak tertinggal oleh bangsa lain. “Kalau PTN masih menambah kuota mahasiswa tanpa konsentrasi bersaing dengan dunia, ya akhirnya Indonesia ketinggalan lagi. Jangan asyik buka kelas dimana-mana dengan dalih kelas daerah lah,” tandasnya.

Tags: