​Refleksi Perobekan Bendera Jadi Momentum Perang Lawan Korupsi



Sebarkan :


Views: 185

Surabaya-Refleksi perobekan bendera di Hotel Majapahit digelar berdasarkan riset siapa pelaku sejarah yang terlibat dan yang penting mengedepankan nilai-nilai sejarah. Peristiwa perobekan bendera belanda yang terjadi pada tanggal 19 September 1945 di Hotel Yamato diaktualisasikan kembali sebagai wujud perang melawan korupsi.

Kamis (14/9/2017), tepat pukul 07.00 di depan halaman Hotel Majapahit Surabaya dilakukan Refleksi Peristiwa Perobekan Bendera Belanda (merah putih biru) menjadi bendera Indonesia (merah putih). Peristiwa ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, para Veteran, TNI, Polri, Camat, Kepala OPD, dan siswa-siswi SD sampai SMP. Dan Sekitar 2.000 paduan suara siswa dari berbagai SD dan SMP di Surabaya turut menyemarakkan kegiatan tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Surabaya, Ikhsan menuturkan melalui momentum ini para pelajar dapat belajar sejarah kemerdekaan sekaligus menghargai jasa para pahlawan yang telah berjuang mempertahankan kemerdekan Republik Indonesia.“Tantangan kedepan akan semakin berat, oleh sebab itu para siswa dapat berjuang menghadapi tantangan dengan belajar sungguh-sungguh sehingga dapat meraih prestasi untuk mencapai kesuksesan,” katanya.

Sementara itu, teatrikal yang diberi nama Surabaya Merah Putih ini diawali dengan kedatangan Tentara Inggris dan Belanda dalam AFNEI mengibarkan bendera merah putih biru tanpa persetujuan pemerintah Indonesia di Surabaya. Sebelumnya presiden Soekarno telah mengeluarkan maklumat gerakan pengibaran bendera Merah Putih di seluruh wilayah Indonesia. Pengibaran bendera yang melanggar maklumat itu sontak menyulut amarah warga Surabaya.

Arek-arek Suroboyo yang tidak terima dengan tindakan itu, berkumpul di depan Hotel Yamato, memprotes agar bendera tersebut segera diturunkan. Desakan itu tidak dihiraukan, sampai terdengar bunyi letusan senjata dan memicu perkelahian. Rasa patriotisme yang tidak dapat dibendung lagi, pecahlah peristiwa perobekan bendera. Aksi ini sekaligus menjadi penanda kemenangan perjuangan dan bukti nyata patriotisme Arek-arek Suroboyo.

Setelah peristiwa perobekan bendera, dilakukan penghormatan kepada Bendera Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya. Dilanjutkan dengan pidato kebangsaan oleh Wali Kota Surabaya. "Dengarlah semangat juang itu, dengarkan derap langkah dan pekik itu. Merah putih akan segera berkibar. Merah putih akan kembali bersua. Merah putih akan menjulang tinggi ke angkasa raya. Kami tidak takut pada setan-setan yang merobek-robek warna bendera kami, kami tak akan gentar. Untuk melawan penjajah-penjajah baru,” kata Risma dalam sepenggal puisi yang dibacanya dan disusul menyanyikan lagu-lagu kebangsaan.

Sementara, anggota Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) Amad, terlibat dalam peristiwa itu. Dia mengaku terharu dengan rekonstruksi perobekan bendera tersebut. Dalam rekonstruksi Perobekan Bendera Triwarna yang disusun oleh Herry Prasetyo alias Herry Lentho, seniman Surabaya, ditampilkan lagi bagaimana perjuangan arek Suroboyo di masa silam.

Ketika rakyat Surabaya sudah mengetahui bahwa Bendera Triwarna berkibar di langit Hotel Yamato, kekacauan tak terhindarkan. Para pejuang berusaha merangsek masuk ke dalam hotel untuk menurunkan bendera. Pada saat itu, Sudirman sebagai Residen Surabaya datang ke lokasi dengan maksud meredakan situasi. Dia bertemu dengan Ploegman untuk berunding tapi malah ditodong pistol. “Saya sebetulnya mau ikut masuk ke situ, tapi sudah ada yang duluan naik pakai tangga ke atas sana,” ujar Amad.

Arek Suroboyo menerobos masuk ke dalam, sebagian pemuda naik ke puncak gedung dengan menggunakan tangga. Tiga orang pemuda Surabaya berhasil naik ke puncak gedung, menurunkan Bendera Belanda dan merobek warna biru bendera triwarna sehingga tersisa Merah Putih Bendera Indonesia. “Sebagi saksi hidup, mewakili orang tua-tua yang masih hidup, dengan digelarnya peringatan ini kami merasa berterima kasih,” ujar Amad.

Dia berharap agar pemuda Surabaya meneruskan perjuangan para pejuang. Bukan perjuangan dengan cara berpedang fisik. Dia mengakui, perjuangan saat sudah tidak lagi dengan cara seperti itu. “Perang melawan Korupsi. Hanya itu. Sekarang ini kalau korupsi sudah tidak ada, kita aman,” kata Amad yang kini tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Surabaya.

Selain itu, Mansyur anggota LVRI Surabaya yang lain juga berharap hal yang sama. Agar para pemuda Indonesia saat ini, meneruskan perjuangan para pahlawan. “Adik-adik kita para pemuda Surabaya, sudah seharusnya meneruskan perjuangan dengan menaati peraturan, bertanggung jawab, serta terus menjaga persatuan Bangsa Indonesia,” kata Mansyur.

Tags: