Polisi Amankan 15 Relawan Jaringan Solidaritas Anti Penggusuran



Sebarkan :


Views: 14

Kulonprogo- Sebanyak 15 orang relawan aksi solidaritas diciduk aparat kepolisian dalam kericuhan di tengah berlangsungnya kegiatan pembersihan lahan pembangunan bandara di Palihan, Temon, Kulonprogo, Selasa (5/12/2017).

Data dihimpun, 12 orang relawan diamankan saat pengosongan lahan pagi hari di Desa Palihan sedangkan tiga orang lain diamankan menjelang sore di wilayah Desa Glagah.

Upaya pengosongan rumah warga telah dilakukan sejak 27 November oleh pihak Angkasa Pura I selaku operator proyek didampingi kepolisian. Masih ada puluhan aset, baik rumah maupun lahan yang dimiliki warga penolak bandara.

Pihak AP I mendasarkan pengosongan rumah itu pada putusan Pengadilan Negeri Wates tentang ganti rugi rumah milik warga melalui proses konsinyasi. Sementara warga memandang konsinyasi tidak sah karena ada mekanisme yang belum dilakukan oleh AP I.

Dalam prosesnya, upaya pengosongan rumah warga kerap diwarnai kericuhan antara aparat keamanan dengan warga yang masih memilih bertahan di rumah masing-masing. 

Hari ini, misalnya, pengosongan rumah warga diwarnai penangkapan terhadap belasan relawan dan bentrokan warga dengan aparat.

Kekerasan itu terjadi pada 10.15 WIB. Bermula ketika ratusan polisi, tentara, dan perangkat desa mendatangi rumah-rumah warga penolak penggusuran. Mereka menyisir warga dan meminta anggota identintas anggota jaringan.

Aparat berdalih keberadaan anggota jaringan solidaritas tak berizin. Mereka menuding anggota jaringan, yang terdiri dari relawan dan mahasiswa, sebagai bagian upaya memprovokasi warga agar menolak pembangunan bandara.

Upaya warga dan anggota jaringan mempertahankan diri sia-sia. Tiga warga (Fajar, Agus, dan Hermanto) terluka akibat diseret aparat dan terkena lemparan batu. 12 orang relawan dan mahasiswa digelandang ke kantor PT. Pembangunan Perumahan dan akhirnya ditahan di markas Polres Kulonproprogo. Mereka adalah Andre, Imam dan Rimba (UNY), Muslih (FKNSDA), Rifai (Univ. Mercubuana), Mamat, Kafabi, Wahyu, dan Fahri (UIN), Samsul dan Chandra (LFSY), dan Yogi (UNS).

"Mereka kami amankan karena mengganggu jalannya pengosongan lahan tersebut dan menghadang petugas," kata Kepala Unit Reserse Kriminal Polres Kulonprogo, Ajun Komisaris Polisi Dicky Hermansyah.

Pada sore hari, polisi menangkap tiga mahasiswa lagi. Khoirul Muttakim, Abdul Majid Zaelani, dan Syarif Hidayat. Mereka merupakan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Laporan terakhir, ke-15 orang tersebut telah dibebaskan malam ini

Tags: