​PLN-ITS Fokus Tangani Kasus Kelistrikan



Sebarkan :


Views: 91

Surabaya-Tahun 2019 menjadi batas waktu penyempurnaan jaringan kelistrikan di tanah air. Di tahun tersebut rasio elektrifikasi ditargetkan menjadi 100 persen. Rasio elektrifikasi adalah perbandingan antara jumlah penduduk yang telah menikmati listrik dan jumlah total penduduk di suatu wilayah.

Untuk mencapai target itu, Penandatanganan Kesepakatan Pokok (Head of Agreement) dilakukan oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pengelola Usaha (BPPU) ITS Dr Ir I Ketut Gunarta MT dengan beberapa general manager dari unit-unit PLN Regional Sumatera. Disaksikan langsung oleh Rektor ITS, Prof Ir Joni Hermana dan Direktur Bisnis PLN Regional Sumatera, Wiluyo Kusdwiharto, di Gedung Rektorat ITS, Senin (22/1/2018) kemarin.

Penandatanganan 36 dokumen kerjasama tersebut menindaklanjuti Memorandum of Understanding (MoU) yang telah dijalin sebelumnya antara ITS dengan PT PLN (Persero) pada 29 November 2017 lalu tentang pengembangan pendidikan, penelitian, dan penerapan teknologi ketenagalistrikan.

Ditemui Bhirawa usia HoA, Wiluyo Kusdwiharto mengatakan bahwa PLN Regional Sumatera masih mengalami beberapa kendala salah satunya penurunan kapasitas. Penurunan tersebut disebabkan adanya gangguan di sisi boiler yang saat ini dikembangkan di Sumatera.

“Untuk itu kami menggandeng ITS yang mempunyai kompetensi yang sangat bagus di bidang kajian-kajian teknologi, terutama kelistrikan,” katanya.

Menurut dia, boiler tersebut adalah teknologi baru yang perlu adanya pendalaman untuk mengatasinya jika terjadi kendala. Ditambah lagi tugas pemerintah dalam membangun sistem kelistrikan di Indonesia bisa terlaksana tanpa adanya gangguan ditengah pengembangan kelistrikan yang besar dan masif. “Terus terang, banyak hal-hal mengenai studi-studi kasus kelistrikan yang kami sendiri belum mengetahui cara mengatasinya,” ujar Wiluyo.

Selain itu, lanjut dia, masalah pengembangan kelistrikan di pulau terluar. Sedangkan pihaknya telah mendapatkan amanat dari pemerintah untuk mengaliri listrik di pulau terluar, desa tertinggal dan juga daerah kepulauan lainnya. “Untuk itu kami menggandeng ITS sebagai ahli di bidang kelistrikan untuk melistriki secara optimal,” terangnya. Kerjasama ini juga melibatkan PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB).

Selanjutnya, kata Wiluyo, ITS juga diharapkan mampu memberikan solusi pengembangan kelistrikan di pulau-pulau terluar untuk menaikan rasio elektrifikasi. Saat ini rasio elektrifikasinya masih sebesar 93 persen, namun diharapkan pada tahun ini akan melonjak menjadi 100 persen. “Kami harap rasio elektrifikasinya dapat optimum tanpa membebani PLN sekaligus menguntungkan masyarakat,” harapnya.

Dengan ini, diharapkan ITS dapat memberikan solusi pembangkit seperti apa yang seharusnya digunakan. Hal ini agar tidak seperti pengembangan di Papua yang menggunakan tenaga genset, sehingga memakan anggaran besar. “Saya tidak ingin pembangkit yang diterapkan di Sumatera seperti di Papua hingga harus mengeluarkan dana Rp 150 juta per orang,” ungkapnya.

Proyek utama yang ketiga adalah motor listrik untuk kapal nelayan di Sumatera. Wiluyo telah mempercayakan hal ini kepada ITS karena dianggap sangat berkompeten dalam menciptakan inovasi teknologi motor listrik.

Selain dengan PLN Regional Sumatera, ada 11 HoA yang juga disepakati ITS dengan PJB yang bertujuan mengutamakan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, penganalisaan secara detail untuk mengefisiensikan boilerdan turbin serta pengembangan energi baru terbarukan juga menjadi proyek yang akan segera diwujudkan.

“Kerjasama terkait energi baru terbarukan ini sudah dimulai sejak Oktober 2017 lalu, diharapkan tahun ini dapat segera diwujudkan,” sambung Direktur Utama PT PJB, Iwan Agung Firstantara.

Sementara, Kepala BPPU ITS Dr Ir I Ketut Gunarta mengutarakan bahwa MoU ini memang perlu ditindaklanjuti dengan aktivitas yang nyata. Dimana, PLN saat ini ada banyak permasalahan yang memerlukan kontribusi dari Perguruan Tinggi (PT). “Nah ITS, itu kompetensinya di bidang maritim. Bisa dibilang jagonya, ya,” jelasnya.

Perlu diketahui, HoA ini merupakan perjanjian yang lebih mengikat daripada MoU. Berisikan gambaran umum lingkup pekerjaan kerjasama antara PLN dan PJB dengan ITS. Dari 36 dokumen kerjasama tersebut, terdapat 25 kesepakatan yang dijalin antara PLN Regional Sumatera dan ITS.

Tags: