​Permainan Musik Angklung Bawa Siswa Tunanetra Keliling Dunia



Sebarkan :


Views: 71

Surabaya-Tiada hari tanpa diselimuti gangguan dalam indra penglihatannya. Namun, dibalik hambatan tersebut justru membuat Siswa Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (SMPLB YPAB) Surabaya keliling dunia. Buah ikhtiar dalam mengarungi kehidupannya menjadikan berkah dalam hidupnya.

Anak berkebutuhan Khusus (ABK) SMPLB YPAB tampak gigih. Satu set alat musik tradisional angklung kompak dimainkan. Nada-nada lagu Nasional hingga lagu daerah dibabat habis tanpa minus. Permainan yang renyah itulah yang menghantarkan keliling di hampir pelosok belahan dunia.

Sebanyak 28 siswa pada Juni 2015 lalu terbang ke Eropa, Jerman. Berkat kepiawaian memainkan alat musik angklung itulah masyarakat dengan penduduk terbanyak (Uni Eropa) sangat terpesona. Namun, dibalik keberhasilan tersebut dibutuhkan perjuangan panjang. Hal ini diungkapkan Riski Nurilawati selaku Guru Seni Budaya sekaligus pelatih alat musik angklung saat ditemui di Convention Hall Arief Rachman Hakim,Selasa (22/8/2017) kemarin. 

Ia bersama murid-muridnya mendapatkan kesempatan memainkan musik berbahan bambu ini dalam acara Surabaya Young Scientists Competition 2017. “Sangat bersyukur bisa keliling dunia berkat bermain musik angklung. Di Jerman itu bukan hanya di satu tempat, tapi juga di kota-kota lainnya disana selama dua minggu,” katanya.

Kiki sapaan akrab Riski Nurilawati yang juga tunanetra ini mengaku tidak ada kesulitan dalam mengajari anak didiknya. Sebab, dalam setiap mengajarkan memainkan musik tradisional sangat dinikmatinya. “Saya sangat senang dan menikmati pekerjaan ini. Dan semua orang belum tentu bisa juga toh,” ucap Kiki yang kini telah menginjak usia 25 tahun.

Guru Komputer Tunanetra ini menjelaskan bahwa mengajarkan bermain musik angklung bukan hanya bunyinya yang terdengar merdu, melainkan juga etika dalam bermain. Sebab, lanjut Kiki, dalam memainkan musik angklung yang paling utama adalah kekompakan dalam kelompok. “Jadi ya etika, attitude-nya itu juga perlu saat diatas panggung. Kalau tidak itu bisa mempengaruhi bagus tidaknya penampilan. Yang terpenting etika dalam bermain musik. Itu kunci dalam segala permainan musik,” paparnya.

Selain itu, kata Kiki, regenerasi siswa yang masuk dalam kelompok musik angklung di SMPLB YPAB juga menjadi tantangan. Menurutnya, setiap anak pasti berbeda daya tangkapnya. “Penyesuaian musik itu tergantung anaknya. Cepat tidaknya tergantung keseriusan sang anak,” pungkas Kiki yang juga penyanyi di acara prewedding ini.

Tags: