Perguruan Tinggi Harus Persiapkan Diri Hadapi Era Digital



Sebarkan :


Views: 16

Jakarta – Perguruan tinggi di Indonesia dinilai harus mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang era digital disruption yakni era keterkejutan dengan teknologi digital. Hal itu juga harus didukung oleh pemerintah dengan cara mennyiapkan regulasi yang mendukung.

“Kalau saya melihat saat ini mereka belum terlalu aware dengan perubahan zaman. Kalau tidak melakukan apa-apa, maka lambat laun akan tergilas dan perguruan tinggi itu tutup,”kata Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) M. Budi Djatmiko di Jakarta. Menurut dia, saat ini saja jumlah mahasiswa di kampus sudah mulai berkurang 20-30%.

Namun, kata dia, kesiapan kampus dalam hal ini sumber daya manusia (SDM) dan juga teknologi yang ada, harus pula didukung oleh regulasi pemerintah. Kita belum siap, internetnya belum siap, regulasi dan pemerintah belum siap. Kampus yang siap masih hitungan jari, seperti ITB , ITS, dan Binus,” katanya.

Zaman dulu, kata dia, kehebatan seseorang dinilai jika dia menguasai tanah, lalu jaman revolusi indusri dengan menguasai industria, dan zaman sekarang adalah mereka yang menguasai teknologi digital. Kalau kita tidak siap, akan tergerus bangsa lain,” paparnya.

Menurut Asosiasi Penyelenggara Perguruan Tinggi Indonesia (APPERTI) Andi Jurnalis, masalah disruption adalah sesuatu hal yang baru. Dia yakin Perguruan Tinggi, akan menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Namun, dia yakin perubahan itu tidak akan terjadi secara drastis.

“Guru atau dosen itu adalah role model. Saya yakin, kehadiran secara fisik tetap diperlukan, merskipun ada era digital,” ujarnya.

Mantan Ketua DPR yang juga Ketua Dewan Pengawas APPERTI Marzuki Alie berharap dunia pendidikan Indonesia dapat semakin meningkat lagi dengan melakukan sinergi dengan semua pihak. “Kami berharap dunia pendidikan dapat berkembang beriringan dengan dunia swasta dan dengan dukungan pemerintah,” kata Marzuki.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman yang juga Dewan Penasihat APPERTI Rizal Ramli mengatakan, perguruan tinggi di Indonesia harus mulai tidak hanya terfokus pada formalitas seperti akreditasi atau sekadar mengejar angka sertifikasi dosen saja. Namun hal yang lebih utama adalah membangun budaya akademik.

"Perguruan tinggi Indonesia tidak bisa instan serta merta masuk daftar perguruan tinggi yang diakui dunia (world class university) kalau budaya akademik tidak dibangun. Tidak bisa dilakukan dengan hanya melengkapi dokumen saja,” kata Rizal.

Rizal mengingatkan, pada zaman saat ini orang tidak perlu masuk perguruan tinggi kalau hanya mau belajar ilmu tertentu tapi bisa ikut kuliah di mana saja. Banyak kelas yang lebih berkualitas dari kelas di perguruan tinggi di dunia maya. Selain itu kalau seseorang ingin bekerja, saat ini juga banyak keterampilan yang bisa dipelajari secara mandiri. “Artinya perguruan tinggi harus bisa menawarkan apa yang tidak bisa ditawarkan oleh pembelajaran-pembelajaran online tersebut,” pungkas Rizal.

Sumber : Beritasatu.com

Tags: