Peredaran Susu Kental Manis Resahkan Masyarakat



Sebarkan :


Views: 37

Surabaya - Peredaran susu kental manis (SKM) yang telah lama ada ditengah-tengah masyarakat kini meresahkan. Sebab, susu kental dan analognya tidak dapat menggantikan produk susu dari jenis lain sebagai penambah atau pelengkap gizi.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur, Dr dr Kohar Hari Santoso menilai susu kurang lemak banyak dipilih masyarakat sekarang ini. Sebab, sebagian masyarakat memang sengaja mengurangi konsumsi lemak di dalam susu.

Hal ini diungkapkan dr Kohar lantaran adanya informasi bahwa susu kental manis (SKM) yang diklaim oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak ada kandungan susu. Di laman Badan POM pada poin nomor 3 menyebutkan bahwa susu kental dapat digunakan untuk toping dan pencampur pada makanan atau minuman (roti, kopi, teh, coklat, dll). Dan masyarakat diminta cerdas dalam membeli produk pangan.

Menurutnya, susu adalah cairan bergizi berwarna putih yang dihasilkan oleh kelenjar susu mahluk menyusui, termasuk manusia. Meski demikian, dr Kohar menganggap bayi manusia cukup diberikan air susu ibu (ASI) sampai usia enam bulan.

“Susu memang memiliki banyak fungsi dan manfaat. Untuk umur produktif, susu membantu pertumbuhan. Sedangkan untuk orang lanjut usia, susu membantu menopang agar tulang agar tidak keropos. Hal tersebut karena kandungan kalsium yang tinggi dalam susu,” katanya saat dikonfirmasi, Senin (9/7/2018) 

ia melanjutkan, ada beberapa macam susu yang dikonsumsi masyarakat. mulai dari susu murni (whole milk), susu kurang lemak (reduced fat milk), susu rendah lemak (low fat milk) dan susu bebas lemak (free fat milk) atau susu skim. Susu murni, kata dr Kohar, mengandung 3,25 persen dari lemak susu dan 8,25 persen padatan susu bukan lemak yang didalamnya mengandung protein, karbohidrat, vitamin larut air dan mineral.

“Sesuai dengan namanya, kadar lemak lebih sedikit lagi, diciptakanlah susu rendah lemak. kadar lemak pada susu ini telah dikurangi hingga 1 persen,” terangnya.

Untuk sehat, lanjut dr Kohar, perlu mencukupi kebutuhan gizi, terlebih di usia pertumbuhan. Berbagai alasan, pihaknya mengatakan bahwa para orang tua malah menghilangkan susu dari 5 kelompok makanan lengkap. “Ada yang memandang tidak perlu anak di usia sekolah atau remaja untuk minum susu. Padahal, masa remaja masih termasuk masa pertumbuhan,” ulasnya.

Bahwasannya, dr Kohar menilai ada yang keliru dengan menganggap minum susu dapat menjadi gemuk. Berdasarkan komposisi gizi yang dikandung susu, ada kurang sekitar 87 persen terdiri dari air, sehingga lemak pada susu hanya kisaran 3,5 persen. “Dengan demikian susu tidak dapat menggemukkan badan,” jelasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Penyidikan BBPOM Surabaya, Siti Amanah enggan membeberkan secara detail bahwa SKM membahayakan kesehatan konsumen. Ia berujar bahwa semuanya telah ditangani oleh BPOM Pusat. “Semua penjelasan mengenai SKM di handle pusat,” katanya.

Tags: