Kirab Bekakak di Ambarketawang Berlangsung Meriah



Sebarkan :


Views: 27

Sleman- Upacara tahunan Kirab Ageng Budaya Bekakak atau juga disebut Saparan Bekakak di Desa Ambaketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman kembali di gelar, Jumat (03/11/2017). Sekurangnya 40 bregada dan rombongan kesenian ikut mengawal pasangan pengantin Bekakak menuju Petilasan Gunung Gamping untuk disembelih.

Ribuan pasang mata menyaksikan proses kirab Bekakak yang melegenda ini.

Ketua Panitia Saparan Bekakak Bambang Cahyono mengatakan acara Saparan Bekakak sebagaimana tahun-tahun sebelumnya bakal dimeriahkan pawai pasukan “ogoh-ogoh”, “gendruwo” dan “wewe gombel” di sepanjang jalur dari Lapangan Ambarketawang menuju Petilasan Gunung Gamping.

Rombongan andong, pasukan berkuda, rombongan para prajurit yang memakai kostum berwarna-warni, para penari Nyi Poleng, tampak berbaris menjadi peserta kirab bekakak ini. Bendera-bendera, tombak-tombak, serta senjata dibawa oleh setiap rombongan prajurit. Ogoh-ogoh Genderuwo, Nyi Poleng, dan Wewe Gombel juga menambah pernak-pernik pawai safaran bekakak tahun 2017 ini. Rombongan Paskibraka dan Empat Reog Ponorogo menambah daya tarik ribuan masyarakat yang datang untuk menyaksikan. Alunan musik Jawa tak berhenti menghibur siapapun saja yang berada di Lapangan Ambarketawang.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, HY Aji Wulantara, SH, M.Hum, mengatakan penyelenggaraan Upacara Adat Saparan Bekakak ini merupakan bukti nyata apresiasi yang tinggi dari masyarakat Desa Ambarketawang Kecamatan Gamping dalam menginternalisasi sejarah perjuangan yang mengajarkan patriotism dimasa lampau. Upacara adat ini digelar sebagai bentuk permohonan keselamatan bagi warga masyarakat Kecamatan Gamping dan sekitarnya.

Upacara Adat Saparan Bekakak sendiri merupakan sarana mengenang jasa Ki Wirosuto, abdi kinasih Pangeran Mangkubumi sewaktu masih mendiami Pesanggrahan Ambarketawang. Pasangan suami istri Ki dan Nyi Wirosuto akhirnya meninggal saat berada di Gunung Gamping yang berada di kompleks pesanggrahan tersebut.

"Pengorbanan dan sifat Ki Wirosuto ini bisa diejawantahkan pada saat ini dengan tetap teguh memegang prinsip dan kesetiaan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat," ujar Aji.

Penyembelihan pengantin Bekakak juga menjadi simbol pengorbanan Ki dan Nyi Wirosuto dalam memegang teguh kesetiaan yang sudah disampaikan sebelumnya. Usai disembelih, pasangan boneka Bekakak yang terbuat dari beras ketan dan sirup tersebut diperebutkan pada warga masyarakat.

Tags: