Kasus Difteri di Surabaya Tertinggi se-Jatim



Sebarkan :


Views: 55

Surabaya-Penanggulangan penyakit difteri rupanya masih belum dibarengi dengan antusias warga masyarakat. Terbukti, berbagai sebab masih banyaknya kantung-kantung wilayah yang tidak mau divaksin. Seperti di Kota Surabaya sendiri masih menduduki peringkat pertama se-Jatim akan jumlah kasus difteri.

Hal ini diungkapkan dokter spesialis anak RSUD dr Soetomo, dr Dominicus Husada kepada media, Senin (2/7/2018). Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat enggan melakukan vaksin yang telah difasilitasi oleh Dinas Kesehatan. Salah satunya yakni belum melakukan vaksinasi secara tuntas.

"Kenapa di Surabaya masih tertinggi jumlah kasus difteri, karena memang banyak warga yang takut. Mulai dari takut panas, takut sakit, tidak paham akan manfaatnya hingga tidak adanya sanksi," ungkapnya.

Menurut dr Dominicus, pencegahan difteri pada dasarnya dapat dilakukan dengan vaksinasi. Program Pemerintah itupun sudah dilakukan secara rutin dan murah. Sayangnya, banyak kalangan antipati vaksinasi dengan berbagai alasan.

"Pada prinsipnya lebih baik melakukan pencegahan dari pada terserang difteri. Sebab, pengobatan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, baik itu untuk obat maupun perawatan di ruang isolasi," terangnya.

Pihaknya juga berharap kepada pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan untuk getol mensosialisasikan imunisasi difteri atau Outbreak Response Immunization (ORI). Pasalnya, masih banyaknya masyarakat yang belum mengetahui program pemerintah yakni vaksin difteri.

"Kampanye (sosialisasi, red) memang harus intensif, ya. Apalagi dokter yang menemukan lebih banyak jumlahnya, maka imunisasilah anak-anak kita," imbuh dia.

Sebelumnya, Bhirawa telah memberitakan bahwa Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur kembali menggelar imunisasi difteri atau Outbreak Response Immunization (ORI) putaran kedua mulai bulan ini hingga Agustus 2018. Hal ini guna untuk menurunkan angka kasus difteri dengan target sasaran 10 juta anak.

Kepala Bidang P2P Dinkes Jatim Drg Ansarul Fahrudda MKes mengatakan bahwa jumlah kasus difteri di Jawa Timur pada 2018 yang sudah di-update sampai 22 Juni sebanyak 430 kasus dengan jumlah kematian sebanyak tiga orang.

“Jumlah kasus (difteri, red) tertinggi yaitu Kota Surabaya dengan jumlah 50 kasus, karena wilayah urban. Sedangkan, kasus terendah di Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi dengan jumlah dua kasus,” katanya.

Hal ini seperti diungkapkan warga Kebonsari, Surabaya, Utomo Pagon (35) yang saat mengimunisasikan anak pertamanya Zilva Resky Aditya di sekolah. Meski usai melakukan suntik difteri, ia mengaku bahwa anaknya tidak mengalami panas.

"Tapi, waktu itu ada temannya anak saya yang mengalami panas pada malam harinya. Mungkin karena daya tahan tubuhnya yang kurang baik, ya," jelas Pagon yang memiliki 2 anak ini.

Tags: