Jendral TNI Sebut Terorisme dan Radikalisme Ancaman Negara Saat ini



Sebarkan :


Views: 120

Bantul- Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dalam mengawali ceramahnya menyampaikan rasa bahagianya bisa pulang ke kampung sendiri seperti yang dikatakan Haedar Nashir dalam sambutannya di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Desa Tamanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Ahad malam (04/06/2017).

“Suatu kebanggaan yang luar biasa yang patut kita syukuri kepada Allah SWT bahwa saya bisa ke kampung sendiri kata pak ketua tadi. Benar, dan saya mengajak ada para gubernur AAU, gubernur AKMIL juga untuk tau apa yang dikatakan pak ketua tadi benar. Bahkan, panglima pertama TNI itu adalah kader muhammadiyah,” terangnya.

Sebelumnya ketua umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam sambutannya mengatakan bahwa ia yakin bahwa panglima merasa kembali ke Yogyakarta ini seperti kembali ke rumahnya sendiri.

“Atas nama PP Muhammadiyah saya ucapkan selamat datang di ibu kota Muhammadiyah. Saya yakin panglima datang di sini beliau datang bukan ke tempat asing, melainkan datang ke rumahnya sendiri,” ujarnya.

Kedatangan Panglima TNI Gatot Nurmantyo di Masjid Islamic Center UAD Yogyakarta merupakan kegiatan silaturahim dan safari Ramadhan 1438 Hijriah bersama keluarga besar TNI dan komponen masyarakat.

Ceramah dalam tajuk Pengajian Kebangsaan tersebut dimulai pukul 17.00 WIB dengan diawali shalat Isya berjamaah. Diantara ribuan jamaah yang hadir, turut hadir pula Haedar Nashir (PP Muhammadiyah), Hanafi Rais (wakil ketua komisi I DPR RI), Brigjen Pol Ahmad Dofiri (Kapolda DIY, dan Rektor UAD.

Dalam ceramahnya, Jendral TNI Gatot Nurmantyo sendiri mengangkat tema "Tantangan dan Peluang Menjadi Bangsa Pemenang dalam Kompetisi Global". Beliau mengatakan bahwa TNI tidak bisa tanpa bantuan ulama, tanpa bantuan santri, dan tanpa bantuan umat Islam TNI tidak bisa mengamankan negara Indonesia ini.

Berbicara mengenai era global, beliau tidak memungkiri saat ini media sosial sangat berpengaruh salah satu hal yaitu dalam mempengaruhi kebijakan.

“Saat ini orang hidup tidak bisa lepas dari hp, bahkan ada yang 18 jam memakai hp setiap hari. Disinilah media sosial sangat berperan dalam kehidupan bangsa. Bahkan kebijakan-kebijakan pun dapat berubah karena tekanan media sosial. Contohnya, TKI harus memiliki uang di bank sebanyak 25jt rupiah karena diserang oleh media sosial akhirnya berubah kebijakannya,” jelasnya.

Menyinggung tentang tantangan negara kedepan, panglima menyampaikan bahwa ada dua ancaman yang meliputi terorisme dan radikalisme. Beliau juga menyinggung masih lemahnya UU tentang terorisme di Indonesia, sehingga UU tersebut perlu direvisi.

“Ancaman negara saat ini adalah terorisme dan radikalisme. Kalau kita menggunakan UU teroris yang sekarang, maka indonesia masih memberi kesempatan untuk teroris. Karena UU sekarang itu dibuat tahun 2003 dan itupun karena desakan internasional mengenai bom bali,” katanya.

Pada akhir ceramahnya, panglima kembali mengingatkan kepada jamaah TNI tidak akan sanggup melawan musuh tanpa ada dukungan ulama dan santri. Ancaman kedepan semakin nyata, ajak rakyat untuk hilangkan sentimen SARA. Indonesia adalah negara besar, ajak rakyat untuk tetap menjaga keutuhan negara. (FRD)

Tags: