​Jadikan Kota Berbudaya Melalui Banyak Museum



Sebarkan :


Views: 20

Surabaya-Aplikasi untuk menunjang wisata edukasi di Kota Surabaya sangat diperlukan. Hal ini disampaikan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat peresmian Museum Teknologi Informasi (Teknoform) di Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya, Selasa (28/11/2017). Menurutnya, pada zaman now sekarang ini sudah waktunya semua bisa diakses melalui gadget.

Wali Kota perempuan pertama di Kota Pahlawan ini juga meminta peran para generasi muda harus lebih aktif dalam menciptakan sesuatu. Seperti menciptakan aplikasi wisata untuk Kota Surabaya. Dimana, aplikasi tersebut untuk menunjang keberadaan beberapa museum yang ada di Kota Surabaya beserta isinya. “Kan disini (Surabaya) banyak anak muda – muda. Bikin lah semacam aplikasi yang bisa diakses melalui gadget untuk wisata,” pintanya.

Risma sapaan akrab Tri Rismaharini juga menyampaikan bahwa semakin banyak museum membuat kota semakin berbudaya. Sebab, keberadaan museum dimata Risma adalah bentuk menghargai orang lain. “Museum itu kan bentuk penghargaan para pendahulu kita. Oleh karena itu, kita memang lagi menyiapkan museum untuk Kota Surabaya karena ini salah satu ikon kita," terangnya.

Ia pun bercerita disetiap dirinya mendapatkan penghargaan di tingkat Nasional maupun Internasional, bukan jerih payahnya semata. Melainkan juga partisipasi masyarakat Kota Surabaya dalam setiap capaiannya selama ini. “Setiap saya dapat penghargaan apapun itu, saya selalu bilang ini berkat warga saya,” imbuhnya.

Bahkan, Wali Kota Surabaya dua periode ini meminta Stikom untuk tidak berkecil hati. Menurutnya, suatu saat museum Teknoform akan bermanfaat bagi masyarakat secara luas karena menjadikan seseoran tahu. “Suatu saat pasti akan bermanfaat dan Stikom jangan sampai berkecil hati. Mari bersama-sama maju terus untuk mengangkat Kota Surabaya,” pesan Risma.

Bahkan, Ia sempat 'nyeletuk' masih adanya orang yang tanya suku dan agamanya apa. Selain itu juga ia menyanyangkan masih adanya orang yang sukanya mencari kesalahan orang lain. “Saya selalu sampaikan bahwa keberhasilan para pejuang itu karena bersatu. Loh, sekarang kok masih ada yang tanya suku dan agamamu apa? Ini kan balik lagi (masa penjajahan). Terus kapan kita bisa maju kalau kerjanya mencari kesalahan orang lain,” tandasnya.

Sementara, Rektor Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya, Prof Dr Budi Jatmiko menjelaskan keberadaan museum Teknoform sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan. Masyarakat bisa mengetahui segala bentuk informasi karena bisa pembelajaran bagi masyarakat, khususnya Kota Surabaya. “Jadi, masyarakat bisa tahu perkembangan teknologi mulai zaman batu sampai sekarang itu seperti ini,” katanya.

Menurut Prof Budi, hingga saat ini masih belum ada museum yang memperlihatkan wujud barang-barang yang berkaitan dengan teknologi informasi. Bahwa cikal bakal teknologi pada masa sekarang adalah bentuk perubahan fisik di masa lampau dalam hal ukuran serta kemampuan. “Barang-barang yang ada di museum didapat dari surabaya hingga luar negeri. Mulai dari beli rombengan, pemberian teman sampai hunting ke luar negeri,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Putra Bakti Sentosa, Listya Sidarta juga mengungkapkan bahwa ide pendirian museum ini sejak awal Januari 2017 lalu. Setelah ide mucul itulah pihaknya mencari barang-barang tersebut untuk ditempatkan di museum Teknoform. “Waktu itu saya mencari barang itu di tempat vintage yang ada di Surabaya sampai terkumpul hingga sekarang ini,” kata alumni Stikom Surabaya angkatan 87 ini. 

Tags: