Ini Alasan Yusril Menjauhi Amien Rais



Sebarkan :


Views: 63

Jakarta - Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa dirinya tak lagi mau ikut manuver Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais jelang Pemilihan Presiden 2019. Yusril mengakui, mengambil langkah tersebut, karena belajar dari pengalaman.

"Tahun 2018 inipun saya tidak ingin ikut2an dengan manuver Pak Amien Rais, bukan karena saya apriori, tetapi saya belajar dari pengalaman," ujar Yusril lewat akun Twitter-nya, @Yusrilihza_Mhd, Senin (11/6).

Yusril menegaskan bahwa pengalaman adalah guru yang paling bijak. Sebagai ketua partai, dia harus membawa para anggotanya ke arah yang benar dan dengan cara-cara yang benar pula.

"Saya kini Ketum Partai. Saya ibarat nakhoda, yang harus membawa penumpang ke arah yang benar, dengan cara2 yang benar pula. Pengalaman tetaplah menjadi guru yang bijak bagi saya, dan mudah2an bagi orang lain juga," ungkap dia.

Pengalaman yang dimaksud Yusril adalah pengalaman waktu Pilpres 1999. Pada saat itu, ketika pertemuan di rumah Dr Fuad Bawazier, Amien Rais meyakinkan dirinya dan semua yang hadir untuk mencalonkan Gus Dur.

"Saya dan MS Kaban menolak. Kami tidak ingin mempermainkan orang untuk suatu agenda tersembunyi," tutur dia.

Dalam akun Twitter tersebut, Yusril juga memyampaikan pepatah Jawa tentang ucapan pemimpin itu adalah “sabdo pandito ratu” artinya ucapan seseorang yang kedudukannya sangat tinggi, bagai seorang pandito (guru maha bijaksana) dan seorang ratu (raja).

"Karena itu ucapan pemimpin itu haruslah ucapan yang serius dan terpercaya. Ucapan yang sudah dipikirkan dengan matang segala akibat dan implikasinya. Ucapan pemimpin itu akan menjadi pegangan bagi rakyat dan pendukungnya," kata dia.

Karena itu pula, lanjutnya, ucapan pemimpin itu harus lahir dari hati yang tulus, bukan kata bersayap, yang seolah diucapkan dengan kejujuran, tetapi di belakangnya mempunyai agenda pribadi yang tersembunyi.

"Karena ucapan pemimpin adalah sabdo pandito ratu, maka ucapannya tidak boleh “mencla mencle, pagi ngomong dele, sore ngomong tempe” artinya ucapannya berubah-ubah, inkonsisten, sehingga membingungkan rakyat dan pendukungnya," tandasnya.

Karena ucapan pemimpin adalah sabdo pandito ratu, kata Yusril, maka pemimpin itu tidak boleh “plintat plintut” alias “munafiqun”, dalam makna, lain yang diucapkan, lain pula yang dikerjakan. Pemimpin seperti ini, menurut dia, akan kehilangan kredibilitas di mata rakyat dan pendukungnya.

"Berpedoman kepada pepatah Jawa “sabdo pandito ratu” itu, maka sejak awal saya tidak berminat ataupun tertarik dengan inisiatif Pak Amien Rais yang melakukan lobi sana-sini, untuk untuk memilih siapa yang akan maju dalam Pilpres 2019 hadapi petahana," pungkas dia.

Sumber: BeritaSatu.com

Tags:

#politikindonesia