Indeks Daya Saing Indonesia Naik ke Posisi 36



Sebarkan :


Views: 19

Jakarta - Global Competitiveness Report menunjukkan, peringkat indeks daya saing Indonesia naik dari tingkat ke-41 pada tahun 2016-2017 menjadi posisi ke-36 periode 2017-2018 di antara 137 negara.

“Berbagai lembaga pemeringkat internasional juga telah meningkatkan status Indonesia ke tingkat layak investasi, seperti Moody's, Fitch, JCR, R&I, serta Standard & Poor.Ini capaian yang sangat positif,” kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (11/9). Airlangga mengatakan itu kepada para pengusaha Korea Selatan (Korsel) di Seoul, Senin (10/9).

Dalam forum tersebut Airlangga menyampaikan sejumlah perkembangan baik ekonomi Indonesia dan keunggulan sektor industri nasional. “Indonesia adalah negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, yang telah memetakan pertumbuhan ekonomi sejak berhasil mengatasi krisis keuangan Asia pada akhir tahun 90-an,” kata dia.

Pada triwulan II tahun 2018, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,27%, naik 4,21% dibanding triwulan I-2018. Di kuartal kedua tahun ini menjadi pertumbuhan tertinggi pada periode yang sama sejak tahun 2014. Sementara, triwulan II tahun lalu berada di angka 5,01%.

“Sektor industri manufaktur konsisten menjadi pendorong utama pada perekonomian Indonesia yang berkontribusi lebih dari 20% terhadap PDB nasional,” tutur Airlangga.

Adapun kinerja tertinggi dari sektor manufaktur pada kuartal II-2018, yakni industri plastik dan karet yang tumbuh 11,85%, diikuti industri makanan dan minuman (8,67%), industri kulit dan alas kaki (11,38%), serta industri tekstil dan pakaian (6,39%).

“Berdasarkan laporan tahunan Bank Dunia terbaru, peringkat Indonesia meningkat dari ke-91 tahun 2016 menjadi ke-72 pada 2017 di antara 190 negara dalam penilaian kemudahan melakukan bisnis,” kata Airlangga.

Bahkan, Indonesia diakui sebagai salah satu Top Improvers dengan posisi berada di atas India, Brasil, dan Filipina.
Oleh karena itu, pemerintah Indonesia membuka kemudahan jalan bagi arus masuk investasi dengan terus menciptakan iklim usaha yang kondusif.

“Sejak 2015, pemerintah saat ini aktif mempromosikan paket-paket kebijakan ekonomi. Intinya, agar proses birokrasi lebih sederhana dan penegakkan hokum yang lebih baik,” tegas Airlangga.

Dalam upaya mendorong investor di Indonesia menambah penanaman modalnya, pemerintah juga telah memberikan sejumlah insentif fiskal, seperti tax holiday, tax allowance, dan fasilitas bea masuk.

“Bahkan, akan ada skema super deductible tax untuk industri yang melakukan kegiatan inovasi dan vokasi,” kata dia.

Kemudian, pemerintah memperbaiki tata cara perizinan baik yang dilakukan di tingkat pusat maupun di daerah. “Saat ini, sudah disiapkan tata cara perizinan dengan menggunakan mekanisme Online Single Submission (OSS),” imbuhnya.

Selain itu, Kemperin mendukung akselerasi peningkatan kompetensi sumber daya manusia industri melalui program pelatihan dan pendidikan vokasi.

Kemperin mencatat, sepanjang semester I-2018, penanaman modal dalam negeri (PMDN) dari sektor industri berada di angka Rp 46,2 triliun. Sedangkan, penanaman modal asing (PMA) dari sektor industri mampu menembus hingga US$ 5,6 miliar atau Rp 75,8 triliun.

Adapun kontribusi PMDN tertinggi dari sektor manufaktur, di antaranya industri makanan sebesar 47,50% (senilai Rp21,9 triliun), industri kimia dan farmasi 14,04% (Rp 6,4 triliun), serta industri logam, mesin, dan elektronika 12,70% (Rp 5,8 triliun).

Selanjutnya, kontribusi PMA tertinggi dari sektor manufaktur, yakni antara lain industri logam, mesin, dan elektronika sebesar 39,69% (US% 2,2 miliar), diikuti industri kimia dan farmasi 18,84 persen (US$ 1,1 miliar), serta industri makanan 10,41% (US$ 586 juta).

Sumber: BeritaSatu.com

Tags: