​Ikrar Murid dan Santri Warnai SD Khadijah Dalam Santunan Anak Yatim



Sebarkan :


Views: 40

Surabaya-Istilah ‘Lebaran Anak Yatim’ bagi masyarakat menyambut tahun baru Islam, Seperti dilakukan juga oleh siswa-siswi SD Khadijah Pandegiling Surabaya, Selasa (3/10/2017) kemarin. Mereka mengumpulkan sisa uang jajan untuk ikut peduli kepada temannya yang sudah tidak memiliki orangtua (yatim) dalam kegiatan Santunan anak yatim. Hal ini guna menumbuhkan sifat peduli antar sesama.

Ratusan bingkisan yang dikemas apik terlihat memenuhi ruang musala sekolahan yang beralamat di Jalan Pandegiling 217. Bingkisan tersebut ditumpuk keatas menggunakan tangga. Terlihat para siswa berbondong-bondong membentuk gunungan bingkisan plastik berisi tas sekolah, alat tulis sekolah, dan aneka jajanan snack.

Kepala Sekolah (Kepsek) SD Khadijah Pandegiling, Suhadi tampak ditengah-tengah siswa saat membacakan ikrar murid dan santri. Selain menyambut tahun baru islam, juga memperingati Hari Santri pada 22 Oktober mendatang. Dalam ikrar tersebut mereka sepakat untuk cinta tanah air dan menjunjung tinggi kebhinekan. “Para murid memang sengaja terlibat untuk merayakan kegiatan 1 Muharam dan memperingati Hari santri besok. Kali ini para siswa menyisihkan uang sakunya untuk dirupakan bingkisan dan uang saku untuk anak yatim,” katanya.

Menurut dia, perolehan uang tersebut dilakukan siswa tidak serta merta meminta kepada orang tuanya. Melainkan mengumpulkan sampah yang bisa dirupakan uang. Dengan begitu, kata Suhadi, uang tersebut dbelikan bingkisan dan didukung penuh oleh semua wali murid.

“Bersyukur, jumlah yang diundang juga selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. dari hitungan nominal lebih dari Rp 20 juta terkumpul dari uang saku anak-anak, santunan dari wali murid, dan sekolah,” terangnya.

Dengan mengundang lebih dari 100 anak yatim, lanjut Suhadi, terdiri dari anak yatim sekolah, anak yatim sekitar sekolahan, dan anak yatim dari panti asuhan yang ada di Kota Surabaya. Selain itu, dalam memperingati hari santri para murid juga diajak untuk refleksi sejarah. “Pada zaman dahulu para kiai dan para ulama panutan umat mengajarkan masyarakat itu bagaimana punya rasa cinta pada tanah air. Kami memang sengaja sisipkan pelajaran sejarahnya, khususnya para santri itu mampu menggerakkan jiwa anak-anak. Artinya, peran kiai dan peran ulama memberikan teladan bagi kita yang berjuang demi tanah air ini yang sesungguhnya,” ulas dia.

Ia menceritakan bagaimana menjadi penerus bangsa yang seharusnya. Dimana para generasi bangsa akan memegang posisi di masyarakat yang berbeda satu sama lainnya. “Jadi, tugas sekolah memberikan bekal kepada murid. Mulai menanamkan ajaran islam, bagaiamana paham pada sejarah, dan memahami peduli kepada sesama. terutama di bulan muharam kepada anak yatim ini,” pungkas Suhadi.

Sementara, siswa kelas VI SD Khadijah Pandegiling, Ahmad Reno mengaku senang bisa berbagi kebahagiaan kepada teman-temannya, khususnya kepada anak yatim. Menurut dia, uang sakunya selama satu bulan kemarin sengaja dikumpulkan untuk bisa berbagi. “Senang ya, bisa berbagi gini. Memang satu bulan kemarin tidak jajan, karena uang sakunya saya tabung untuk acara ini. Lumayan bisa terkumpul Rp 250 ribu,” katanya.

Hal senada juga dirasakan Tirto Wening Pangestu usai mendapatkan bingkisan dari SD Khadijah Pandegiling. Tirto yang masih duduk di bangku TK B ini merasa senang bisa dapat tas sekolah dan uang jajan. “Senang, ini dapat tas dan bingkisan jajan. Dapat uang juga ini,” kata Tirto yang diantarkan oleh kedua orangtuanya warga Tempel Sukorejo 4/32 ini.

Tags: