​Guru IPS Harus Kuasai Materi dan Model Pembelajaran



Sebarkan :


Views: 221

Surabaya-Perubahan Kurikulum 2013 (K-13) rupanya masih membuat bingung para guru. Seperti guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Jawa Timur. Mereka masih kesulitan dalam penguasaan materi dan menentukan model pembelajaran.

Hal ini diungkapkan Wakil Dekan I Bidang Akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dr Agus Suprijono saat ditemui Bhirawa, Minggu (8/10) kemarin. Menurutnya, selama ini guru di tingkat SMP tidak ada kesesuaian dan ada salah pemahaman karena program studi IPS sangat sedikit. "Sampai sekarang ini di lapangan boleh dibilang guru di tingkat SMP khususnya guru IPS tidak ada kesesuaian. Karena berasal dari guru sejarah. Ini muncul sejak KTSP tahun 2006 lalu," ungkapnya.

Menurut Agus, guru IPS mengalami kebingungan karena semua mayoritas dari jurusan geografi. Hal inilah yang membuat guru IPS harus belajar secara terus menerus. "Mau tidak mau mereka saling silang dan harus mempelajari konsep dasar sosiologi dan sejarah," terangnya.

Oleh sebab itu, lanjut Agus, guru IPS di sekolah-sekolah belum serta merta terpenuhi. "Apalagi dengan banyaknya merger itu membutuhkan guru IPS yang betul-betul integrate," imbuh dia.

Pada kesempatan yang sama, Forum Komunikasi Guru (FKG) IPS mengukuhkan 16 pengurus yang ada di Kabupaten kota provinsi Jatim di gedung Srikandi Unesa, kemarin. Pengukuhan tersebut untuk membangun konektivitas guru-guru SMP/MTs negeri maupun swasta. "Kita punya target semua di wilayah Jatim terbentuk. Namun, perlu adanya sosialisasi secara bertahap," kata Ketua FKG IPS Jatim, Dyah Ayunda.

Menurut Dyah, masih banyak guru-guru IPS yang mengaku kesulitan sejak adanya perubahan kurikulum yang direvisi. Mulai dari materi yang berubah dan model pembelajaran berubah. "Guru IPS masih kesulitan seperti penguasaan materi yang dinilai membingungkan dan sulitnya mencari bahan serta menentukan metode pembelajaran," terangnya.

Di dalam kurikulum K-13, kata Dyah, memasukkan karakter, literasi, dan keterampilan berpikir anak tingkat tinggi. "Pola berpikir anak itu harus naik dan meningkat. Kalau dulu kan hanya sekadar menerima saja. Nah, mereka (guru IPS, red) akan membutuhkan kita. Karena kita punya tenaga handal," ulas Dyah.

Sementara, Guru Besar Fakultas Pendidikan IPS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof Nana Suprijono pun menanggapi berbagai keluhan yang disampaikan guru yang tergabung dalam anggota FKG IPS Jatim ini dalam seminar bertema 'Peran Pendidikan IPS Menjawab Tantangan Global di Abad 21' di Unesa.

Menurut Prof Nana, kurikulum K-13 memberikan penekanan pada pembelajaran IPS agar terintegrasi. Perubahan kurikulum dari KTSP menjadi K-13 telah banyak memberikan perubahan kompetensi dasar pada pembelajaran. "Bukankah anak-anak akan bosan saat ada buku teks tapi pelajarannya diulang lagi, kurikulum yang ada sekarang mengajak guru untuk lebih berimprovisasi," terangnya.

Ia mengungkapkan, guru tidak harus menghabiskan waktu di luar. Sebab, di awal semester ada penyusunan pembelajaran. Dan para guru bisa menyusun strategi pembelajaran di luar kelas. "Para murid bisa diajak piknik, tidak usah jauh-jauh. Coba diajak ke pasar tradisional. Agar anak-anak tahu keberadaannya kini tergerus globalisasi. Materi itu pengalaman belajar, bukan buku teks," paparnya.

Guru Besar Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret, Prof Hermanu Joebagio juga menanggapi hal tersebut. Menurut dia, percepatan menghadapi globalisasi harus dilakukan para guru. Sebab, anak-anak sekarang ini sudah melek teknologi. "Jadi, dimanfaatkan kecanggihan anak dengan sesuatu yang baik. Harus didorong jadi manusia yang Excellence. Beri anak kesempatan mengembangkan diri dengan pemberian tugas yang memanfaatkan teknologi," imbuhnya.

Tags: