​Ganti Dinoyo Jadi Sunda, Gunungsari Jadi Prabu Siliwangi



Sebarkan :


Views: 84

Surabaya-Rencana Pemprov Jatim mengganti nama jalan di Surabaya untuk harmonisasi Sunda-Jawa menuai protes keras dari warga. Ada dua jalan yang bakal berganti nama. Jalan Gunungsari diubah jadi Jalan Siliwangi, dan Jalan Dinoyo jadi Jalan Pasundan.

Satu diantaranya pemerhati sejarah dan budaya Kota Surabaya, Kuncarsono Prasetyo yang memprotes. Menurutnya, penggantian nama jalan tersebut, bisa menghapus identitas lokal sebuah wilayah. Sebab, pemberian nama sebuah wilayah adalah sebuah kearifan lokal dibuat berdasarkan kesepakatan bersama.

Kuncar sapaan akrabnya mengatakan, nama Jalan Dinoyo memang diambil dari nama Kampung Dinoyo. Jika dilihat secara kesejarahannya, Kampung Dinoyo ini keberadaannya sudah ada sejak sebelum pemerintahan kolonial Belanda masuk. “Jalan Dinoyo adalah jalan yang dibangun Daendels. Jalan ini dulunya memang menghubungkan antarkota, sehingga jadi jalan provinsi,” kata Kuncarsono.

Meski jalan provinsi, lanjut dia, tak membuat Gubernur Jawa Timur, Soekarwo bisa seenaknya mengubah nama jalan ini. “Pemberian nama bukan sekadar agar gaul atau ngetrend saja. Pemberian nama adalah kearifan lokal karena kesepakatan bersama. Bukan dari pejabat. Kalau ingin pakai nama Prabu Siliwangi atau Jalan Sunda, pakai saja untuk jalan baru yang belum punya nama,” ujar dia.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Sjarikat Poesaka Surabaya, Freddy Istanto. Menurut dia, pemberian nama bukanlah hak penguasa. Namun pemberian nama adalah bentuk kearifan warga. “Penguasa boleh memberikan nama, tapi untuk wilayah yang tak mempunyai memori sejarah. Sedangkan Dinoyo ini sudah mempunyai memori sejarah yang panjang,” ujar Freddy.

Oleh karena itu, dia bersama dengan berbagai komunitas pecinta sejarah dan pelestari bangunan cagar budaya Surabaya, mengecam keras kebijakan Gubernur Soekarwo tersebut. Bahkan, kertas putih berukuran papan nama jalan bertuliskan ‘Soekarwo’ dibuat sebagai bentuk aksi protesnya di Jalan Dinoyo, Rabu (7/3/2018).

Selain itu, perwakilan warga Surabaya, Kusnan mengkritik keras Gubernur Jatim dua periode tersebut. Menurutnya, mengganti nama jalan harus ada permusyawaratan bersama warga. “Saya menilai perubahan nama jalan ini hanya sebuah keputusan yang lebay,” ucapnya.

Perlu diketahui, rencana penggantian nama jalan muncul setelah Gubernur Jatim Soekarwo bertemu dengan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dan Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Selasa (6/3) lalu. Jika di Surabaya ada nama Jalan Pasundan dan Siliwangi, maka di Bandung akan ada nama Jalan Majapahit dan Hayam Wuruk.

Tags: