​Butuh Rp20 Ribu, Siswa SMPN 26 Surabaya Ciptakan Alat Detektor Gempa



Sebarkan :


Views: 76

Surabaya-Bayangan masyarakat pada umumnya dalam menciptakan alat pendeteksi gempa sangatlah sulit dan mahal. Namun, anggapan itu berhasil dipatahkan oleh siswa SMPN 26 Surabaya. Pelajar belia yang masih duduk di bangku kelas IX ini menciptakan detektor gempa dengan harga ekonomis dari pemanfaatan limbah daur ulang. Ia adalah Yohanes Lukas dony anggoro dan Muhammad Nasiruddin.

Mereka berdua berniat untuk membantu masyarakat khususnya di pedesaan yang sering mengalami bencana gempa. Dengan alat detektor gempa sederhana dengan pengaturan sensitivitas skala gempa ini diharapkan bisa mendeteksi dini gempa yang akan terjadi. "Membuat alat ini karena indonesia terutama di desa mempunyai masalah finansial. Jadi kami berupaya alat detektor gempa ini bisa digunakan masyarakat di desa," kata Yohanes Lukas saat ditemui di sela melakukan percobaan alatnya, Rabu (23/8/2017).

Menurut Yohanes, pembuatan alat detektor gempa tersebut hanya membutuhkan biaya tidak lebih dari Rp20 ribu. Minimnya budget ini dikarenakan semua bahan untuk membuat alat detektor semua menggunakan daur ulang limbah. Sedangkan, lanjut dia, meja uji untuk membuat simulator gempa menghabiskan dana Rp40 ribu. "Jadi sangat murah sekali tidak sampai Rp20 ribu saja untuk alat detektornya. Dan meja simulasinya habis Rp40 ribu. Dan semua masyarakat pasti bisa membuatnya," ungkapnya.

Yohanes menerangkan, membuat alat detektor gempa hanya membutuhkan waktu satu hari. Bahan yang dibutuhkan meliputi baterai 9 volt, kabel, buzzer, lampu led, switch, ring, pemberat lingkaran, dan kabel sensor serta kaleng bening berbahan plastik. "Untuk mengetahui ada gempa alat ini bisa berbunyi sesuai tingkat getaran. Kalau getaran semakin kuat, bunyi alarm semakin cepat," paparnya.

Sementara, Nasiruddin mengungkapkan bahwa alat detektor gempa ini awal tahu dari youtube dan yang membuat orang Pakistan. Namun, dari hasil menontonnya itu menemukan suatu masalah yakni pada detektor belum terdapat pengaturan sensitivitas getaran gempa. "Jadi tingkat kepekaan getaran gempa tidak dapat diatur sesuai skala gempa yang dikehendaki," ungkapnya.

Dengan begitu, ia menjelaskan bahwa perlu menggunakan metode penelitian dan pengembangan melalui beberapa langkah. "Pertama itu menyusun tiga variabel yaitu diameter ring sensor, posisi ring sensor yang dapat dinaikkan maupun diturunkan dan kelenturan kabel sensor. Dan menguji alat ini di meja simulator gempa," terangnya.

Mereka berdua pun berharap bahwa alat yang dikembangkannya saat ini perlu ada pengembangan selanjutnya. Hal ini agar lebih peka terhadap guncangan gempa yang berskala kecil. "Ini perlu disempurnakan proses pengujiannya ya," harapnya.

Terpisah, Guru Pendamping Sri Sulaminingsih mengatakan bahwa pihaknya telah bekerjasama dengan wali murid dalam pembuatan alat detektor gempa tersebut. Pasalnya, anak-anak ini masih membutuhkan pendampingan karena terkait teori termasuk dalam penghitungannya. "Semua ide dan pembuatan alat detektor gempa ini dari anak-anak. Kami bersama wali muridnya hanya melakukan pendampingan saja," katanya.

Sri menerangkan, prinsip mereka untuk membantu warga pedesaan yang kurang mampu secara finansial dan tinggal di pelosok. Namun, kata dia, dalam proses pembuatannya menemukan beberapa kendala. "Kendala waktu penghitungan tenaga pegas karena alat untuk mengukur belum standar. Jadi butuh pengulangan beberapa kali. Kurang lebih butuh waktu 3 minggu untuk finishingnya," pungkas Sri.

Tags: