Arab Saudi: Kami Takkan Diam dengan Agresi Iran



Sebarkan :


Views: 33

Kairo - Arab Saudi menegaskan tidak akan berdiam diri menyaksikan "agresi" Iran, sementara Bahrain mengatakan kelompok Hizbullah dukungan Iran telah menguasai penuh Lebanon, dalam pertemuan Liga Arab di Kairo, Minggu (19/11) waktu setempat.

Para menteri luar negeri dua negara Teluk itu bicara dalam pertemuan luar biasa yang diinisiasi Arab Saudi di Kairo, Mesir, yang merupakan markas Liga Arab.

Pertemuan digelar ketika tensi antara dua musuh bebuyutan Arab Saudi dan Iran meningkat tajam. Topik pembicaraan juga menyangkut Lebanon, salah satu anggota Liga Arab.

Arab Saudi, yang mayoritas Suni, dan Iran, kekuatan Syiah terbesar di dunia, selama puluhan tahun selalu berseberangan dalam berbagai konflik di Timur Tengah termasuk yang sekarang berlangsung di Suriah dan Yaman.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir memeringatkan Iran bahwa negaranya tidak akan berdiam diri menyaksikan agresi Iran.

Arab Saudi "tidak akan ragu untuk mempertahankan keamanan nasional demi menjaga keselamatan rakyatnya", kata Jubeir saat membuka pertemuan itu.

"Saya percaya bahwa dewan Liga ini akan menjalankan tanggung jawabnya dan mengambil keputusan terkait pelanggaran keamanan Arab oleh Iran," ujarnya.

Menteri Luar Negeri Bahrain Sheikh Khalid bin Ahmed Al-Khalifa mengatakan gerakan Syiah Hizbullah di Lebanon sudah menguasai penuh negara itu.

"Tangan terbesar Iran di kawasan ini sekarang adalah kelompok teroris Hizbullah," kata Khalid.

Dia menambahkan bahwa Hizbullah tidak hanya beroperasi di dalam Lebanon, tetapi juga melewati perbatasaan dan menjangkau seluruh negara-negara Arab, sehingga menjadikannya "ancaman bagi keamanan nasional Arab."

Dia menyerukan agar negara-negara yang bermitra dengan Hizbullah untuk melaksanakan kewajiban mereka.

Hizbullah Disebut Teroris
"Republik Lebanon, terlepas dari hubungan kita sebagai saudara sesama negara Arab ... sepenuhnya dikuasai kelompok teroris ini," kata Khalid.

Arab Saudi meminta digelarnya pertemuan khusus tersebut membahas pelanggaran yang dilakukan Iran setelah sebuah rudal berhasil dicegat dekat Riyadh dalam serangan 4 November lalu yang diklaim oleh kelompok pemberontak Syiah, Huthi, di Yaman.

Para menteri yang berkumpul juga akan membahas kebakaran pipa minyak Bahrain yang terjadi pada 10 November lalu dan menuduh Iran bertanggung jawab.

Sebelumnya Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menuduh Iran melakukan "agresi militer langsung" melawan kerajaan Arab Saudi dengan memasok rudal balistik ke para pemberontak Yaman, namun Teheran membantah terlibat.

Bahrain dan Uni Emirat Arab mendukung ajakan Arab Saudi untuk mengadakan pertemuan luar biasa itu, dan disetujui oleh Djibouti, yang sekarang mendapat giliran memimpin Liga Arab.

Ketegangan antara Arab Saudi dan Iran meningkat setelah Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri secara mendadak mengundurkan diri, juga pada 4 November, melalui pernyataan yang dia sampaikan di Riyadh di mana dia menyebut adanya kekuatan Iran di negaranya dan ancaman pembunuhan terhadap dia.

Menlu Lebanon tidak hadir dalam sesi hari Minggu, namun wakil permanen Beirut di Liga Arab ikut dalam pertemuan.

Selama lebih dari satu dekade, pertikaian politik di Lebanon pada dasarnya terpecah antara Hizbullah yang didukung Iran bersama para sekutunya, dan koalisi dukungan Arab Saudi yang dipimpin Hariri.

Di Suriah, Hizbullah ikut bertempur membela Presiden Bashar al-Assad, salah satu sekutu Iran.

Sumber : Beritasatu.com 

Tags:

#ArabSaudi