Ahris, Juara Dunia yang Belum Banyak Mendapat Perhatian



Sebarkan :


Views: 39

Jakarta- Gelar juara dunia menjadi impian setiap atlet, tidak terkecuali dari cabang olahraga yang belum terkenal sekali pun, seperti woodball. Demikian pula yang dirasakan atlet Indonesia, Ahris Sumariyanto yang telah menyandang gelar juara dunia untuk kedua kalinya.

"Bangga tiada tara saya berhasil meraih predikat juara dunia. Apalagi saya meraih gelar juara duania itu untuk kedua kali. Pertama saya meraihnya pada tahun 2010 dan kedua pada tahun 2016. Rasanya semua pengorbanan berat dan perjuangan panjang yang saya jalani, terbayarkan ketika saya berhasil jadi juara dunia," kata atlet kelahiran Jepara ini.

Wajar Ahris merasakan semua itu lantaran woodball di Indonesia belum setenar sepakbola dan bulutangkis. Namun, kebanggaan yang dirasakan tidak kalah tentunya dengan atlet Indonesia lainnya yang pernah jadi juara dunia, seperti Icuk Sugiarto, Taufik Hidayat (bulutangkis), Ellyas Pical, dan Chris John (tinju).

Hanya mungkin faktor sambutan dan perhatian yang dirasakan beda dialami Ahris. Mungkin jika keberhasilan juara dunia didapat Ahris di cabang populer (bukan woodball) pastinya sambutan dengan 'karpet merah' telah didapat jebolan Universitas Negeri Semarang ini.

"Ketika saya meraih gelar juara dunia untuk pertama kali, saat kedatangan di bandara tak terlihat acara pejemputan layaknya atlet bulutangkis atau tinju yang meraih prestasi yang sama. Namun, saya harus menerima kenyataan itu karena di Tanah Air cabang woodball ini belum familiar atau sepopuler bulutangkis. Namun hal itu tak lantas membuat saya kecewa," terang Ahris yang sukses jadi juara dunia ketika masih berusia 18 tahun dan hingga kini menempati peringkat satu dunia.

Jalan berliku, pahit-getir, dan pengorbanan tiada tara harus dilakoninya sebelumnya berhasil menjadi juara dunia. "Berlatih keras, bermandi peluh keringat serta berkorban segalanya harus saya lakoni ketika proses merintis karier untuk jadi juara dunia. Bahkan saya harus puasa karena harus irit mengumpulkan uang demi bisa membeli tiket atau membiayai diri agar bisa mengikuti turnamen di luar negeri,” kenang Ahris.


Atlet yang diasuh Suhendar Wijaya ini sangat gembira karena jerih payahnya terhapuskan ketika menjadi juara dunia. “Bahkan tak cuma sekali, tetapi kedua kali," imbuh pemain asal Jepara Woodball Club yang kini bergabung dengan Pamulang Woodball Club (PWbC) ini.

Dia sangat gembira ketika mendapat perhatian dari pemerintah seusai mempersembahkan dua medali emas untuk kontingen Indonesia di ajang Asian Beach Games di Vietnam 2016. "Sebelumnya saya belum pernah merasakan perhatian khusus dari pemerintah, meski saya telah dua kali merebut predikat juara dunia,” kata atlet berumur 29 tahun ini.

Sumber : Beritasatu.com 

Tags: