Abu Ulya : Rusuh Mako Menyisakan Tanda Tanya Publik



Sebarkan :


Views: 79

Surabaya- Akhir Rusuh di rutan Mako Brimob di sampaikan pejabat Wakapolri di lanjutkan selang beberapa waktu oleh Menkopolhukam dan secara terpisah di sesi berikutnya kembali Wakapolri bersama komandan Brimob menyampaikan tuntasnya penanggulangan rusuh oleh napi teroris.

Harits Abu Ulya, Pengamat Terorisme dalam relesnya mananggapi bahwa jika memperhatikan dengan seksama dari paparan mereka, ada kesan ketidaksingkronan dan masih banyak hal yang tidak terungkap tuntas oleh awak media.

Terutama bagaimana kronologi napiter bisa menguasai senjata api, pemilikan sajam bahkan bom dan bagaimana teknis softh approach yang berakhir lepasnya sandra dan menyerahnya semua napiter. Dan apakah benar hanya soal sepele "makanan" pada hari itu yang memicu terjadinya insiden tersebut? “Analisa saya; mungkin pihak aparat menggunakan Oman Abdurrahman untuk bisa bicara dengan para napiter melalui perwakilannya misalkan seperti Alex dan Muflich” katanya.

“Pihak aparat melakukan pendekatan kepada Oman terlebih dahulu agar ia bisa membantu menyelesaikan insiden tersebut. Mengingat Oman juga dikabarkan ada di rutan yang sama meski di tempat yang beda” lanjut Abu Ulya

Oman Abdurrahman posisinya di patuhi dan didengar pendapatnya. Dalam inseden ini, Bisa jadi Oman tidak sependapat dan tidak mendukung aksi para napiter yang latar belakang aksinya adalah urusan perut atau hal tidak penting. Ditambah argumentasi dan pertimbangan lainnya. Dan itu bisa kuat pengaruhnya bagi napiter utk berpikir lebih rasional. Akhirnya meletakkan senjata semua dan keluar menyerah satu persatu. Jadi kemungkinan besar Oman punya peran dlm proses menyerahnya napiter.

Dari 156 orang napiter level militansinya berbeda, tidak semua masuk lingkaran inti (militan). Paling tidak dari 156 itu 10 orang yang pegang senjata adalah masuk dalam lingkaran inti dengan militansi yang lebih dibandingkan lainnya. Karena itu 145 napiter lebih mudah di ajak untuk berbicara dan masih memilih tawaran rasional dri pihak aparat.

Sementara 10 orang yg militan sisanya juga tdk sepenuhnya punya sikap mandiri. Buktinya mrk sempat meminta untuk ktmu dengan ideolog dan rujukan mereka yaitu Oman Abdurrahman. “Nah dari situ terlihat, meski militan tetap saja mereka manusia yang masih bisa diajak bicara untuk mencari solusi terbaik” lanjutnya

Yang tidak kalah penting, perlu evaluasi kinerja densus pasca investigasi dari insiden ini. Krn bisa saja insiden ini muncul krn akumulasi kemarahan napiter sebab perlakuan aparat densus yg ada di rutan terhadap mrk yg dianggap tdk adil dll. Karena bisa jadi petugas densus saat insiden adalah petugas baru dan relatif masih muda. Jk Sikap overackting itu muncul mk kerap melahirkan rasa benci pada diri napiter. “Jadi bukan semata spontanitas karena soal makanan tapi akumulatif dari banyak aspek” sambung Abu Ulya.

Begitun soal senpi, sajam dan bom. Perlu investigasi adakah unsur kelalaian didalamnya hingga para napiter dengan mudah dapat mendapatkannya dan menguasainya. Kesannya paradok; senpi-senpi tsb di rebut dr aparat bayangkara (densus) terbaik oleh para napiter yang notabene mereka tidak terlatih dalam banyak hal.

“Dan 155 orang nyerah tampa timbul korban tewas itu luar biasa, dan profesionalisme polri selalu di uji untuk kedepannya dalam kasus terorisme. Hari ini bisa dengan pendekatan lunak dan sukses semoga kedepan juga lebih profesional, mengingat kasus yang lalu-lalu seperti penindakan terorisme di ciputat atau di Mojosongo Jawa Tengah, mereka jumlah sedikit dan senjata sedikit tapi jatuh korban. Ini 10 orang pegang senjata dengan amunisi yang cukup tapi happy ending. Sesuatu yang luar biasa." Kata Abu Ulya.

Tags: